GOTHIA CUP: Prestasi SSB Kabomania Memuaskan

By
Updated: July 24, 2012

 Tim ”Garuda Muda” U-14 pulang ke Tanah Air dari festival sepak bola usia muda Gothia Cup di Gothenburg, Swedia, dengan senyum puas. Walau kandas di semifinal, perjuangan tim Indonesia terekam dalam data statistik: 9 kali main, menang 8 kali, kalah sekali, 40 gol tercipta, dan hanya kebobolan 4 gol.

Di kategori U-14 putra Gothia Cup, Indonesia menurunkan tim Sekolah Sepak Bola (SSB) Kabomania SKF Indonesia. Tim bermateri 18 pemain itu merupakan hasil seleksi SSB peserta Liga Kompas Gramedia (LKG) U-14 musim 2012. Setiap hari Minggu selama delapan bulan, LKG U-14 musim 2012 digelar di Stadion Ciracas, Jakarta Timur. Dari kompetisi itu, tim pencari bakat LKG U-14 menyeleksi pemain yang layak ke Swedia.

Tantangan menuju Gothia Cup tak hanya seputar bagaimana mereka tampil baik selama LKG U-14, tetapi juga perjuangan tak kenal lelah menuju Gothenburg, yang sejauh 11.000 kilometer dari Jakarta, dengan waktu tempuh 15 jam.

Setibanya di Gothenburg, Sabtu (14/7/2012), tidak banyak waktu untuk istirahat. Setelah menaruh barang di gedung sekolah yang dijadikan ”hotel”, pemain langsung berlatih. Hadangan pertama yang harus diatasi bukanlah tim lawan, tetapi suhu musim panas di Swedia yang hanya 12-17 derajat celsius. Suhu yang sangat dingin bagi pemain-pemain kita.

Toh, soal suhu terbukti bukan halangan. Tekad untuk mengukir prestasi lebih baik dari 2011 menjadi penyemangat. ”Target kami tahun ini lebih baik daripada tahun lalu di Gothia Cup,” kata kapten tim Dodi Alfayed. Tahun lalu, tim U-14 Indonesia yang juga hasil seleksi LKG U-14 terhenti di 16 besar.

Festival Gothia Cup 2012 untuk kategori U-14 putra sangat ketat karena diikuti 204 tim yang dibagi dalam 51 grup. Saking banyaknya peserta, laga yang harus dijalani begitu panjang dengan jadwal yang ketat.

Setelah tampil di babak grup sebanyak tiga kali laga, dua tim terbaik dari setiap grup berlaga di babak 128 besar. Mulai babak itulah tim masuk sistem gugur. Kalah, maka tersisih. Rata-rata setiap tim bertanding dua kali sehari, bahkan bisa tiga kali.

”Garuda Muda” tidak kesulitan di grup karena kualitas lawan masih jauh di bawah. SSB Kabomania SKF Indonesia melibas IF Vaster (Swedia) 8-0, Turun Pallokerho 1 (Finlandia) 10-0, dan IFK Aspudden Tellus 1 (Swedia) 3-0. Indonesia melumat Elite South East (Inggris) 5-0 di 128 besar, di babak 64 besar menggilas Pol Sirtorese (Italia) 6-0, babak 32 besar menggebuk Marin FC (AS) 4-0, babak 16 besar memukul tim tuan rumah IF Goteborg (Swedia) 2-0.

Di babak perempat final, laga mulai alot dengan skor bertahan sama kuat 1-1 dengan FH 1 (Eslandia) hingga waktu normal usai. Namun, kisah tim Kabomania SKF Indonesia masih berlanjut setelah mereka unggul 4-3 lewat adu penalti.

Namun, mereka tak kuasa menahan gempuran Chivas Guadalajara (Meksiko), lawan di semifinal. Indonesia kalah 0-3, sekaligus menjadi kekalahan pertama mereka di festival ini.

Chivas adalah salah satu klub terbaik Meksiko, yang antara lain melahirkan pemain Manchester United Javier Hernandez. Tim senior Chivas meraih peringkat ke-2 pada Copa Libertadores 2010. Tahun lalu, Chivas juara Gothia Cup U-14 putra.

Kelelahan

Kelelahan menjadi persoalan seluruh tim di Gothia Cup akibat bertanding terus-menerus tanpa jeda. Masalah ini juga menimpa tim SSB Kabomania SKF Indonesia.

Dodi Alfayed termasuk pemain yang kelelahan karena terus dimainkan sejak grup sampai perempat final. Di semifinal, Dodi tak sanggup tampil penuh. Padahal, peran Dodi sebagai kapten sekaligus pengatur permainan sangat dibutuhkan. ”Dodi pemain berkualitas, saya kesulitan mencari penggantinya. Kalau kita punya 2-3 pemain sekualitas Dodi, bisa juara,” kata Pelatih SSB Kabomania SKF Indonesia Cecep Jumhana.

Menghadapi situasi itu, duo pelatih Dede Supriadi-Cecep Jumhana meminta pemain tak usah ngotot di semifinal. ”Kita ’lepas’ saja semifinal. Kita bisa mencapai semifinal sudah luar biasa. Jangan sampai anak-anak cedera karena dipaksakan,” ungkap Dede.

Bukan miniatur

Psikolog olahraga Jo Rumeser mengatakan, terjadi salah pemahaman bahwa pemain sepak bola usia dini sama saja dengan pemain sepak bola dewasa. Padahal, pemain usia muda bukan miniatur pemain dewasa.

Bagi pemain usia dini, memburu prestasi bukan tujuan utama. ”Prestasi bisa dicapai oleh pemain berkarakter dan berkemampuan teknis. Yang dimaksud karakter adalah menghormati aturan, menghormati lawan, mengendalikan emosi,” kata Jo.

Direktur Utama SKF, sponsor utama Gothia Cup, Tom Johnstone juga mengatakan, semua peserta Gothia Cup adalah pemenang. Pemain usia dini dari seluruh dunia berkumpul di Gothia Cup untuk berbagi kegembiraan, bukan semata-mata untuk saling mengalahkan.

Pulang dari Swedia, banyak pengalaman berharga yang dikantongi pemain tim SSB Kabomania SKF Indonesia. Prestasi mencapai semifinal adalah ”bonus”. Hal yang lebih utama, mereka bermain sepak bola melawan tim dari seluruh dunia untuk mengasah karakter, mental, dan keterampilan mereka. Pemain U-14 yang ditempa di Ciracas dan Swedia itu suatu saat menjadi tulang punggung tim nasional.

Hasil tim Indonesia lainnya yang berlaga di Gothia Cup 2012 adalah seperti berikut Jakarta Football Academy sampai perdelapan final, namun kalah dari Syrianka FC (Sweden) 2-3. Kreasia Indonesia FC lolos ke babak 16 besar namun ditumbangkan Efthymiades FA 7 – 1. Terakhir adalah Javan Hawk Academy yang harus tersingkir dibabak 16 besar setelah kalah 2-3 dari IF Brommapojkarna 1 (Swedia).

-www.kompas.com-

Powered by WP Robot