Bersatu Kita Teguh, Bersama Kita Bangkit

By
Updated: November 22, 2011

 

 Kita Teguh, Bersama Kita Bangkit. Save SEA GAMES 2011, Indonesia, BISA!

 

Menantikan jurnal SEA Gamesdi TVRI menjadi agenda rutin saya seusai pulang sekolah di petang hari sewaktu masih duduk di bangku SMP. Ya, buat saya yang tumbuh besar di keluarga penggemar olahraga, pesta olahraga terbesar se Asia Tenggara ini selalu menjadi kalender penting yang tidak pernah terlewatkan.

 

Banyak cerita sukses dibalik SEA Games XIV tahun 1987 itu, yang diselenggarakan untuk kedua kalinya di Jakarta. Terhitung sejak kali pertama keikutsertaan Indonesia di tahun 1977, dalam surun satu dekade hanya satu gelar Juara Umum lepas dari tangan kita. Thailand, yang begitu dominan kala ajang ini masih disebut sebagai SEAP Games (South East Asia Peninsular Games), berhasil menjadi juara saat ditunjuk sebagai tuan rumah pada tahun 1985.

 

Dengan mengacu terhadap Instruksi Presiden tentang Penyuksesan SEA Games XIV, semua insan terkait mulai dari Kementerian Kesejahteraan Rakyat, Pendidikan dan kebudayaan, Olahraga, Sosial, Kesehatan serta kantor kegubernuran DKI Jakarta serta KONI bersama dengan semua tim pelaksana dan seluruh lapisan masyarakat berperan sukses menyelenggarakan acara yang berlangsung selama kurang lebih sebelas hari itu. Terlihat slogan Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat yang dikumandangkan Pemerintah saat itu dijalankan dalam satu wujud kebersamaan.

 

Konon biaya sebesar 18.3 milyar rupiah pun cepat terkumpul dan tepat waktu dicairkan untuk persiapan semua kontingen dan penyelenggaraan pesta olahraga ini. Porkas yang kemudian berganti baju menjadi SOB, Sumbangan Olahraga Berhadiah, diberitakan menyumbang hampir sebesar 11.4 milyar rupiah sendiri.

 

Memang kala itu, Indonesia begitu kokoh disebut sebagai Macan Asia. SEA Games XIV pun dimandatkan untuk dapat berjalan sukses. Dengan ambisi merebut kembali Juara Umum dari tangan Thailand, seteru paling kuat tim Indonesia, semua pengurus teras setiap induk cabang olahraga mempersiapkan para atlitnya untuk menyumbangkan medali sebanyak-banyaknya.

 

Merebut hampir separuh dari total medali emas yang tersedia, Indonesia akhirnya kembali menjadi Juara Umum untuk kali ke lima. Sukses ini bahkan semakin berkesan setelah di menit akhir babak final cabang Sepakbola, yang digelar sebagai rangkaian acara penutupan SEA Games 1987, Ribut Waidi, mencetak gol satu-satu nya ke gawang Malaysia sekaligus mengantar timnas Indonesia menjadi juara untuk pertama kalinya.

 

Gulat, tenis dan bulutangkis semakin melengkapi kejayaan Indonesia dimana diketiga cabang tersebut, semua medali emas disapu bersih.

 

Yang lebih membanggakan, di cabang atletik Indonesia pun berhasil menggeser dominiasi Thailand dan Malaysia dengan meraih 17 emas dari 45 lomba. Prestasi diraih bahkan saat Philipina tampil dengan ratu Asia-nya,  Lydia de Vega.

 

Singkat kata, ambisi besar SEA Games XIV 1987 yang didukung oleh dana besar ini dibalas dengan prestasi yang tidak ternilai harganya.Sampai satu dekade lagi berikutnya, hegemoni prestasi Indonesia berlanjut dan hanya pada SEA Games XVIII 1995 di Chiang Mai, gelar Juara Umum akhirnya luput dari kita.

 

Ironisnya, bersamaan dengan adanya krisis moneter yang diikuti oleh kisruh politik di tahun 1998 lalu, urung-urung reformasi, Indonesia justru asat prestasi.

Sejak diputuskan di rapat Dewan Federasi  SEA Games di Nakom Ratchasimam Thailand tahun 2007 lalu, Pemerintah Indonesia yang menunjuk Kementerian Pemuda Olahraga, mencanangkan akan menghelat SEA Games terbesar dan terbaik sepanjang sejarah. Bahkan agenda akan ditunjuknya 4 kota disuarakan dengan optimistis, sebelumnya akhirnya dipangkas hanya menjadi 2 kota oleh Pemerintah.

 

Seiring dengan merosotnya prestasi, melorot juga reputasi Indonesia dimata semua negara peserta.  Sampai tulisan ini dibuat, dari total anggaran sebesar  3.4 triliun rupiah, kejelasan hukum serta mekanisme pengeluaran sisa danasebesar 1.3 triliun rupiah masih menjadi polemik. Walaupun Perpres dan Keppres untuk pembelian barang dengan penunjukkan langsung tanpa tender sudah dikeluarkan, banyak pihak yang khawatir akan penyimpangan yang akan terjadi.

Tanpa dua peraturan tersebut saja, sudah terkuak dugaan kasus suap Kemenpora dan Komisi terkait dalam pembangunan Wisma Atlit di Palembang.Ditambah lagi dengan sisa waktu yang hanya dalam hitungan minggu, kualitas pekerjaan yang dituntut berjalan 24 jam non stop menjadi pertanyaan sekaligus kekhawatiran.

 

Save SEA Games 2011.

Please change your Status Profile to support and save SEA Games 2011.

Ping!

 

Itu adalah broadcasting message yang saya dapat beberapa minggu yang lalu. Dalam hitungan menit, puluhan sahabat dan kerabat dalam Friends Contact List di ponsel saya ikut mengganti status mereka.

 

United and Rising…..Bersatu dan Bangkit…

 

 

Begitu bunyi slogan yang menyiratkan visi dan misi SEA Games 2011 kali ini.

 

Hanya sebulan yang lalu saya mendapat kesempatan bertemu dengan salah satu tim Inasoc. Setelah pernah mendapatkan kesempatan menjadi Project Leader untuk salah satu perusahaan Korea yang merupakan salah satu Presenting Partner helat Olympic Torch Relay tahun 2008 lalu, sungguh kagum saya melihat apa yang dipresentasikan oleh tim Inasoc Creative Centre. Tidak jauh berbeda dari banyak Olympic Games Guidelines yang buat oleh banyakHost Country Organising Committee yang sudah sering saya dapat, dokumen yang disiapkan oleh sekumpulan professional dan para pakar di bidang nya ini, mempunyai detail dan rasional konsep yang begitu kuat. Ini semua mereka kerjakan bisa dibilang secara sukarela, karena sudah lebih dari setahun, imbalan yang mereka terima setiap bulannya jauh dibawah kisaran UMR!

 

Sudah saatnya kita kembali bersatu. Lucu rasanya mendengar Menko Kesra dan Menkeu menyindir Inasoc yang mendesak Pemerintah untuk segera menandatangani Perpress dan Keppress perihal penunjukkan langsung pengadaan barang. Sementara banyak pihak menganggap desakan Inasoc itu lebih dikarenakan kekurangmampuan Kemenpora dalam menjalankan fungsinya sebagai koordinator pelaksana kebijakan lintas sektoral.

 

Peran pihak sponsor dan non pemerintah pun menjadi vital dalam hal ini. Beberapa perusahaan besar yang sudah menandatangani kerjasama dengan Inasoc dengan memberikan sponsorship diharapkan tidak ikut terbawa kericuhan para elit pemerintahan kita. Sungguh prihatin melihat kenyataan bahwa hanya 5 minggu sebelum SEA Games 2011 di mulai, belum ada aktifitas promosi yang dilakukan oleh pihak sponsor bersama dengan Inasoc.

 

Ajakan tentunya juga ingin saya sampaikan kepada pembaca dan seluruh masyarakat Indonesia.

Bagaimanapun juga, dibalik kekecewaan kita semua terhadap prestasi para atlit, tersimpan juga asa dan harapan kalau kita tidak boleh kalah dari dengan Thailand apalagi Malaysia.

Mari lupakan sejenak rasa kecewa itu. Mari kita support SEA Games 2011 ini. Jadilah tuan rumah yang baik. Tunjukkan kepada semua negara bahwa Indonesia adalah negara besar, bangsa yang besar. Jadilah juga penonton yang baik. Soraki para atlit dengan teriakan semangat, dan tepuki juga lawan apapun hasilnya.

 

Bersatulah Seluruh Rakyat Indonesia.Bangkitlah Wahai Atlit Indonesia.

 

Salam Cinta Olahraga,

Dony Munaf (@dony_is_ote)

Penulis adalah seorang pemerhati dan pencinta Olahraga. Setiap artikel yang dibuat oleh Penulis adalah rangkuman dari analisa, interpretasi dan ungkapan hati serta cinta Penulis terhadap setiap kejadian olahraga, baik di republik Indonesia dan belahan dunia lainnya. For the Love of the Game.

Sumber:
SEA Games 2011 Official website, dan berbagai sumber terpecaya lainnya

Powered by WP Robot